Mencapai kepuasan seksual tentu menjadi dambaan bagi setiap pasangan ketika melakukan hubungan seksual. Banyak cara ditempuh untuk mencapai kepuasaan seksual, mulai dari melakukan berbagai variasi gaya seks sampai memakai bantuan obat-obatan. Apa sebenarnya definisi kepuasan seksual? Bagaimana pencapaian kepuasan itu terjadi? Bagaimana bila tidak tercapai? Apa solusinya?
Kepuasan seksual atau biasa disebut orgasme adalah pelepasan tiba-tiba ketegangan seksual yang terkumpul, yang mengakibatkan kontraksi otot ritmik di daerah pinggul yang menghasilkan sensasi kenikmatan yang tinggi dan diikuti relaksasi yang cepat. Ini biasanya berlangsung selama beberapa detik. Orgasme juga sebagian merupakan pengalaman psikologis akan kenikmatan dan pembuangan, saat pikiran difokuskan hanya pada pengalaman pribadi. Orgasme kadang-kadang disebut klimaks atau kedatangan.
Orgasme berbeda antara satu orang dengan yang lain dan untuk setiap individu pada waktu yang berbeda. Terkadang orgasme merupakan gelombang sensasi yang meletup-letup dan menakjubkan, sementara lainnya lebih ringan, halus, dan tidak terlalu kuat. Perbedaan intensitas orgasme dapat disebabkan faktor fisik, seperti kelelahan dan lamanya waktu sejak orgasme terakhir, sekaligus juga faktor psikososial, yaitu suasana hati, hubungan dengan pasangan, aktivitas, harapan, dan perasaan mengenai pengalaman itu.
Pria mengalami orgasme saat terjadinya ejakulasi, yaitu keluarnya cairan mani, sedangkan wanita mengalami orgasme saat terjadi kontraksi vagina, uterus, dan bagian bawah perut serta otot anus. Untuk mencapai tahap orgasme harus dilalui beberapa tahap siklus respon seksual yang sama antara pria dan wanita, hanya saja waktu yang diperlukan untuk masing-masing fase dapat berbeda tergantung proses pembelajaran akan aktivitas seksual.
Siklus respon seksual pada pria dilalui dalam 5 fase, antara lain :
1. Fase eksitasi.
Fase ini dimulai dengan rangsangan fisik dan atau psikologis yang berlangsung selama beberapa menit hingga jam (biasa disebut Foreplay). Ditandai dengan puting susu dan penis menegang (ereksi), peningkatan tekanan darah dan frekuensi denyut nadi (berdebar-debar), otot menjadi tegang, dan terjadi penumpukan aliran darah pada anggota gerak tubuh dan penis serta skrotum sehingga testis (buah zakar) menjadi bengkak dan terangkat.
2. Fase plateau.
Pada fase ini terjadi pembesaran testis, kelenjar prostat dan lainnya serta penis, terjadi pengeluaran cairan preejakulasi yang dapat mengandung sperma didalamnya, terjadi peningkatan tekanan darah, denyut nadi, dan frekuensi nafas serta ketegangan otot. Adanya “sex flushing” (kemerahan) pada dada.
3. Fase orgasme.
Selama fase ini terjadi proses pelepasan ketegangan seksual yang mungkin dapat terjadi tanpa melalui aktivitas seksual secara nyata. Terjadi kontraksi ritmik dari vesica seminalis, saluran sperma, dan prostat. Saluran sperma mendorong cairan mani ke dalam saluran kencing dan proses ejakulasi terjadi melalui kontraksi saluran kencing. Kontraksi awal berlangsung sangat kuat dan frekuensi yang amat sering, biasa disebut “sensasi pemompa” berlangsung beberapa detik sebelum ejakulasi dan merupakan detik-detik dimana orgasme pada pria akan berlangsung.
4. Fase resolusi.
Pada fase ini ukuran alat kelamin dan penis kembali ke normal. Testis turun kembali dan sex flushing menghilang. Tekanan darah, denyut nadi, dan pernafasan kembali normal.
5. Fase refrakter.
Fase ini hanya terjadi pada pria, dan karena hal inilah, pria tidak dapat mengalami orgasme ganda. Selama fase ini, tidak dapat terjadi rangsangan lain yang dapat menyebabkan ejakulasi. Fase ini berlangsung beberapa menit pada pria muda dan beberapa jam hingga hari pada pria dewasa atau yang sudah berumur.
Pola siklus respon seksual pada wanita terjadi dalam 4 fase, antara lain :
1. Fase eksitasi.
Fase ini dimulai dari rangsangan fisik dan atau psikologis yang berlangsung beberapa menit atau jam. Terjadi “flush” pada dada sehingga puting payudara menegang dan payudara membesar. Rahim terangkat dan mulai terjadi proses lubrikasi/pelumasan vagina. Klitoris membengkak, terjadi peningkatan tekanan darah serta denyut nadi, dan sebagian besar otot tubuh menegang.
2. Fase plateau.
Pada fase ini, payudara semakin tegang, klitoris terangkat serta lebih menonjol, terjadi pengeluaran cairan dari kelenjar-kelenjar sekitar vagina, terjadi perubahan posisi rahim untuk memudahkan jalannya sperma. Tekanan darah, denyut nadi, pernafasan, dan ketegangan otot semakin memuncak.
3. Fase orgasme.
Selama fase ini terjadi pelepasan ketegangan seksual yang dapat terjadi karena rangsangan fisik atau tidak. Terjadi kontraksi klitoris, vagina, dan bagian bawah perut serta otot anus. Kontraksi awal sifatnya sangat kuat dengan jeda waktu yang sangat singkat, biasa disebut “denyut pinggul”, peningkatan tekanan darah, denyut nadi, dan frekuensi pernafasan mencapai puncaknya dan biasanya disertai dengan lemasnya otot-otot tubuh. Wanita dapat mengalami orgasme ganda sebelum mencapai tahap selanjutnya.
4. Fase resolusi.
Pada fase ini ukuran payudara dan puting susu serta vagina, klitoris, dan rahim kembali normal. Sex flush menghilang dan nilai tekanan darah, nadi, dan pernafasan kembali normal.
Dilihat dari proses di atas tentu kepuasan seksual merupakan proses alamiah yang dapat terjadi pada setiap pasangan, baik pria maupun wanita. Namun ada saja pasangan yang mengeluh tidak dapat mencapai kepuasaan seksual bahkan ada yang mengeluh kurangnya hasrat untuk melakukan aktivitas seksual. Ada banyak hal yang dapat menyebabkan terganggunya fungsi seksual, secara garis besar terbagi menjadi :
1. Penyebab psikologis.
Ini merupakan penyebab terbanyak terhambatnya aktivitas seksual bahkan tidak dapat mencapai kepuasan seksual. Hal ini dapat terjadi karena :
• kurangnya komunikasi antarpasangan
• kecemasan akan menyulitkan pasangannya
• hubungan seksual yang sudah menjadi rutinitas
• hilangnya privasi
Hal ini dapat diatasi dengan keterbukaan antarpasangan akan hubungan seksual yang diinginkan dan bila perlu konsultasi ke dokter atau ahli seksolog demi kenyamanan bersama.
2. Penyebab organik.
Dalam hal ini ada penyakit lain yang menyebabkan terganggunya fungsi seksual secara tidak langsung. Penyakit-penyakit itu antara lain :
• atheroskelrosis (sumbatan pembuluh darah)
• diabetes mellitus
• hipertensi
• penyakit kelamin karena nyeri yang timbul
• anemia
• penyakit otak dan sumsum tulang
• akibat operasi prostat pada pria
• tumor atau kanker pada rahim wanita
• menurunnya hormon (pada pria maupun wanita)
• akibat pembedahan indung telur
Untuk kasus ini, yang harus diatasi adalah penyakit utama yang mendasari terganggunya fungsi seksual. Bila tidak ada kemajuan maka dapat ditambah dengan penggunaan obat-obatan penunjang yang dapat meningkatkan fungsi seksual.
3. Penyebab farmakologi.
Dalam hal ini adalah penggunaan obat-obatan harian baik atas indikasi kesehatan maupun penyalahgunaan obat. Obat-obat yang dapat mengganggu fungsi seksual antara lain :
• obat antihipertensi
• obat antidepresan
• obat hipnotik, misalnya: obat tidur
• narkotika
• antipsikotik
• stimulan (kokain atau amphetamin)
• halusinogen, misalnya : shabu-shabu
• diuretik
Bila obat-obatan digunakan atas indikasi dokter demi kesehatan pasien, tentu penggunaan obat tidak dapat distop, tapi mungkin dapat ditambah obat-obatan yang dapat meningkatkan fungsi seksual. Akan tetapi bila penyebab gangguan fungsi seksual adalah akibat penyalahgunaan obat-obatan, maka sebaiknya penggunaan obat-obatan tersebut dihentikan demi kesehatan anda.
Secara garis besar, gangguan fungsi seksual dapat dibagi menjadi 3, yaitu :
1. Gangguan pada fase hasrat.
Gangguan dapat berupa hasrat seksual yang menurun, meliputi berkurangnya atau bahkan lenyapnya fantasi dan gangguan keengganan seksual yang dapat terjadi baik pada pria maupun wanita. Hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah diatas :
• terapi fantasi
• mencoba berbagai variasi seksual untuk mengatasi kejenuhan
• mengatasi trauma yang berkaitan dengan seksual atau keengganan pribadi
• penggunaan terapi hormonal untuk meningkatkan hasrat seksual, misalnya: testosteron pada pria dan estrogen pada wanita
2. Gangguan fase eksitasi (gairah)
Adalah ketidakmampuan memperoleh atau mempertahankan hasrat seksual secara memadai yang ditunjukkan dengan hilangnya eksitasi subjektif atau respon tubuh. Hal ini ditandai dengan gangguan ereksi (impoten) pada pria dan hilangnya lubrikasi vagina pada wanita. Hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi keluhan diatas :
• mengatasi masalah psikologis yang mendasari (bila ada) dengan berkonsultasi ke psikiater
• melakukan hubungan seksual pada saat ovulasi atau menstruasi dimana kadar hormonal pada wanita sedang tinggi-tingginya.
• pada pria menggunakan obat-obatan untuk merangsang ereksi dan mempertahankannya, misalnya: sildenafil, vardenafil, tadafalil, dan apomorphine yang dapat diminum secara oral atau papaverine, androskat dan caverject yang disuntikan intracavernosal
• bila tidak berhasil dengan obat, dapat dicoba penggunaan vacuum constriction devices yaitu suatu alat yang diimplantasikan ke organ vital pria untuk menopangnya saat ereksi.
• Pada wanita dapat dicoba terapi hormonal berupa pemberian estrogen untuk melancarkan lubrikasi vagina, atau obat-obatan seperti sildenafil (sama dengan pria) yang dapat meningkatkan relaksasi klitoris dan otot polos vagina sehingga lubrikasi lancar, hanya saja obat ini tidak seefektif bila digunakan pada pria.
• Bila tidak berhasil dapat digunakan cairan lubrikans untuk melumasi vagina.
3. Gangguan fase orgasme
Ditandai dengan kesulitan atau hilangnya orgasme setelah rangsangan seksual yang cukup dan berlangsungnya fase gairah. Masalah ini lebih banyak dialami wanita daripada pria karena butuh waktu lebih lama bagi wanita untuk mengalami orgasme. Gangguan fungsi orgasme dapat diatasi dengan :
• latihan masturbasi dengan panduan
• terapi kognitif prilaku seksual misalnya: foreplay yang lebih lama untuk wanita
• terbuka pada pasangan dan memperbaiki hubungan interpersonal
Pada akhirnya untuk mencapai kepuasan seksual diperlukan kerja sama serta komunikasi yang baik antarpasangan, keterbukaan merupakan kunci untuk menyelesaikan masalah yang timbul dan mencari solusi untuk kenyamanan bersama. Penggunaan obat-obatan tidak berbahaya selama hal itu sesuai indikasi dan sesuai aturan pemakaian yang berlaku. Akan lebih aman bila anda berkonsultasi dengan dokter anda sebelum mengambil tindakan tertentu.
Referensi
Widjanarko, Bambang. Hand Out Obstetri Ginekologi ”Ilmu Ginekologi Dasar”. Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya Jakarta
www.kompas.com/photo
www.wikipedia.org




Post new comment